Posts

Showing posts from January, 2019

Tiada (1)

Amarah membludak dari seorang wanita paruh baya berbadan gempal Akibat sepotong ikan termakan tanpa bicara Malam ini didalam kamar yang didominasi oleh kertas kado Dengan kantung mata yang mulai menghitam dan sembab Sebuah air bening kembali meluruh dari mata sipit seorang perempuan Tangannya gemetar, bibirnya pun ikut bergetar Ini bukan sebuah penyakit Tapi ini keadaan yang membuatnya sakit Kepergian dan kehilangan membuatnya semakin sulit untuk bangkit Kemudian ia beranjak dari tempat tidurnya Mengambil sebuah buku bersampul biru dan pulpen Ia menuliskan semua curahan hatinya Kegundahannya. Kesedihannya. Kepiluannya. Semuanya ia tulis Tak lupa sesekali melirik sebuah foto yg terbingkai rapi disamping meja nya Seorang perempuan berambut putih dengan banyak kerutan di dahi Bukan. Itu bukan ibunya Lalu siapa? Kata demi kata telah terurai menjadi sebuah paragraf Paragraf yang menerjemahkan bahwa ia sekarang ini tak baik-baik saja Bagaimana tidak, airmata nya tak kunjun...

Tiada (2)

Saking lelapnya trtidur, sampai ia tidak sadar ada beberapa panggilan tak terjawab dan 4 buah pesan Ia bangun kesiangan. Subuh terlewatkan Ia membuka ponselnya dan menghubungi kembali Namun apa jawaban dari disana? Tidak ada. Bukan tidak dijawab. Tapi ditolak Panggilan ke tujuh baru terjawab "Kenapa ditolak?” ia berkata dengan suara serak. "Maafin aku ketiduran" ”Asal kamu tau, aku nungguin kamu sampai jam 2, subuh juga gak tidur lagi, kamu gak ada pikiran kalo udah tidur, asik sendiri. Kalau sudah tidak serius, katakan! Jangan seperti ini sikapmu! Tidak usah kebanyakan drama! Aku benci perempuan menangis!" begitu ocehan nya disebrang sana Ah ia bingung kalau sudah membuatnya marah seperti itu Andaikan pria itu tau keadaan ia semalam yang menunggu kepulangannya untuk meredakan tangisan Sebenarnya ia berniat ingin cerita, namun paginya disambut dengan kicauan darinya yang membuat dirinya semakin kacau Kembali menangis lagi Ia benar-benar tidak mengerti ha...

Rumah Teduh

Berlalu dengan ketidakseimbangan dalam jajaran hari-hari Minggu, bulan, dan tahun terus berjalan Menapaki berbagai cerita dari kehidupan Tidak kelabu, tidak juga hitam pekat Warna-warni kah? Tidak juga Datar. Berjalan sangat datar Sosok itu yang ku nanti Menanti 129 hari Menjejaki sepi Menyelami sunyi Sesekali terisak dibalik bantal dengan kelopak mata yang kemudian sembab Aku tidak juga mengerti alasan mencintainya Tampan kah? Kaya kah? Shalih kah? Atau berpangkat kah? Bukan. Kurasa bukan karna itu Ya aku tidak tau Mau bagaimana lagi? Aku memang tidak tau Karena semua itu tidak butuh alasan kalau sudah merasa nyaman Tapi bagiku dia rumah Tempat kembali. Tempat menetap. Tempat berkeluh kesah. Tempat mencurah Beberapa kali rumah itu ingin roboh Terkena terpaan angin dari luar Tapi selau ada cara untuk menjaga agar tetap kokoh Pondasi yang dikuatkan, tiang yang dikokohkan, serta atap yang ditangguhkan Mengertilah Aku ingin terus tetap berada dalam rumah itu