Ragu Redam --Bab 1

Aku mengenalnya untuk pertama kali.
Bukan sebagai seseorang yang dekat.
Bukan juga seseorang yang pernah mengisi hari-hariku.
Dia hanya seseorang yang sering kulihat dari kejauhan.
Seorang kakak kelas.
Dua tahun lebih tua dariku.
Dengan seragam putih biru yang selalu terlihat rapi, langkah yang tenang, dan tatapan yang sulit ditebak.

Namanya Wildan Satria.

Di sekolah, hampir semua orang mengenalnya.
Bukan hanya karena dia ketua OSIS—
tapi juga karena ada sesuatu dari dirinya yang membuat orang mudah memperhatikan.
Cara bicaranya yang halus.
Gestur tubuhnya yang lembut.
Dan sikapnya yang tidak sepenuhnya sama dengan kebanyakan laki-laki lain seusianya.

Sebagian orang mungkin melihatnya sebagai sesuatu yang berbeda.
Sebagian lagi menjadikannya bahan cerita.

Dan aku?
Aku hanya memperhatikan dari jauh.
Dengan rasa penasaran yang tidak pernah benar-benar bisa kujelaskan.
Bukan berarti aku menilainya buruk.
Hanya saja, di usiaku saat itu, aku belum benar-benar mengerti bagaimana memahami seseorang yang terlihat “tidak seperti kebanyakan”.
Jadi aku memilih untuk menyimpannya sebagai kesan—
bahwa dia adalah seseorang yang berbeda.
Lucunya, jarak kami sebenarnya tidak sejauh itu.

Kami tinggal di kampung yang sama.
Rumah kami tidak bersebelahan, tapi cukup dekat untuk saling tahu keberadaan satu sama lain.
Hanya berbeda RT—cukup dekat untuk sesekali berpapasan,
tapi cukup jauh untuk tidak pernah benar-benar saling menyapa.
Kadang hanya sekilas berpapasan tanpa sengaja.
Dan setiap kali itu terjadi, aku tetap menjadi aku yang sama—
hanya melihat, tanpa pernah berpikir bahwa suatu hari nanti, dia akan menjadi bagian dari hidupku dengan cara yang jauh lebih dalam.

Waktu berjalan.
Hari-hari di SMP berlalu, dan tanpa terasa, semua itu hanya menjadi bagian kecil dari masa lalu.
Aku melanjutkan hidupku.
Begitu juga dia.
Tanpa cerita.
Tanpa kedekatan.
Tanpa sesuatu yang benar-benar mengikat di antara kami.

Ternyata…
waktu punya rencana lain.

Bertahun-tahun setelah semuanya terasa selesai, setelah kami menjalani hidup masing-masing tanpa pernah benar-benar saling mencari—
namanya tiba-tiba muncul lagi.
Bukan di jalan kampung.
Bukan di lorong sekolah.
Tapi di sebuah notifikasi sederhana di layar ponselku. Dari Facebook.
Sebuah pesan masuk, dari nama yang begitu familiar, tapi terasa jauh di saat yang sama.

Wildan Satria.

Jujur, untuk beberapa detik, aku hanya menatap layar. Seolah memastikan bahwa aku tidak salah lihat. Dan di sana, dengan sederhana, tanpa basa-basi panjang, dia menuliskan:
"Apa kabar dek?"

Sesederhana itu.
Tidak ada yang spesial dari kalimatnya.
Tidak ada kata-kata manis.
Tidak ada usaha berlebihan.
Tapi entah kenapa, cukup untuk membuat sesuatu di dalam hatiku bergerak pelan.
Aku sempat ragu untuk membalas.
Bukan karena tidak mau, tapi karena terasa aneh.
Seseorang dari masa lalu, yang bahkan tidak pernah benar-benar dekat, tiba-tiba hadir seolah tidak pernah benar-benar pergi.
“Apa aku harus balas?”
Pertanyaan itu sempat terlintas.
Tapi pada akhirnya aku tetap membalas.
Singkat.

Obrolan kami berlanjut seperti biasanya—ringan, sederhana, tanpa tekanan.
Lalu, dia menanyakan sesuatu yang sedikit berbeda.
Tentang kampung.
Tentang keadaan di sini.
Kebetulan, saat itu kampung kami sedang dilanda banjir.
Air naik perlahan, terutama di daerah yang dekat dengan kali—tempat di mana rumahnya berada.
Dia merantau.
Jauh dari rumah.
Dan mungkin, di tengah kesibukannya, ada sedikit rasa khawatir yang membuatnya kembali mencari kabar.
Termasuk… kabarku.

“Di sana banjir ya, Dek? Udah surut belum? Tapi rumah kamu gak kena kan?”

Begitu kira-kira yang dia tanyakan.
Aku tersenyum kecil saat membacanya.

“Rumah aku mah enggak kena dong, Kak. Jauh dari kali,” balasku santai.

RT kami memang berbeda.
Rumahku berada di bagian yang lebih tinggi, cukup jauh dari aliran sungai.
Sementara rumahnya justru sebaliknya.

Dari obrolan sederhana itu, aku mulai melihat sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kusadari.
Ada rasa peduli di balik pertanyaannya.
Ada perhatian kecil yang terasa tulus, tanpa dibuat-buat.
Dia tidak hanya sekadar “menyapa”.
Dia benar-benar ingin tahu.

Dan di titik itu, aku tetap menjadi aku yang biasa.
Menjalani hari seperti biasanya.
Membalas pesannya seperlunya, tanpa pernah benar-benar menunggu.
Tidak ada rasa deg-degan.
Tidak ada rasa penasaran yang berlebihan.

Aku tahu, dari caranya berbicara, dari caranya mulai sering menghubungi, niatnya jelas.
Dia ingin mendekatiku.
Tapi aku?
Masih di tempat yang sama.
Netral.
Tanpa perasaan.
Bahkan, kalau aku boleh jujur, aku tidak pernah benar-benar memikirkan dia setelah percakapan itu selesai.
Dia hanya menjadi bagian kecil dari hariku—
tidak lebih.

Comments

Popular posts from this blog

Hmm

Tiga Nama, Satu Takdir

Bisa Apa? Bisa Gila