Tiga Nama, Satu Takdir
PUTIH ABU DAN DELAPAN TAHUN TANPA NAMA
Siang itu, langit masih pucat. Angin sekolah berembus pelan, dan aku bersama teman satu kelas berjalan menuju mushola untuk menunaikan shalat zuhur dengan langkah malas khas anak kelas sepuluh. Lalu suara itu terdengar. Lantang, jernih, dan entah kenapa… menenangkan.
“Allahu Akbar…Allahu Akbar”
Aku berhenti melangkah.
Suaranya bukan yang dibuat-buat. Tidak tinggi berlebihan. Tidak juga datar. Tapi hangat. Seolah setiap lafaznya keluar dari hati, bukan sekadar kewajiban. Aku menoleh ke arah sumber suara. Aku penasaran, itu suara siapa. Lalu aku bertanya dengan temanku yang laki-laki bernama Hafidz, "Itu siapa ya Fidz yang adzan?", tanyaku. "Kak Alwi, ketua rohis kita", katanya.
Ketua Rohis. Kakak kelas. Laki-laki yang saat itu belum punya wajah di kepalaku, tapi suaranya langsung tinggal di dadaku. Sejak aku mengagumi suara adzan itu, aku berkeinginan untuk mengikuti organisasi yang bernama Rohis tersebut.
Sejak hari itu, setiap kali jadwal salat berjamaah, aku selalu datang lebih awal. Duduk agak depan. Bukan untuk salat lebih khusyuk—jujur saja—tapi untuk mendengar lantunan azannya lebih dekat. Aku tidak langsung jatuh cinta. Tapi aku mulai memperhatikan.
*
Saat itu ujian semester, dari kelas sepuluh sampai kelas duabelas duduknya itu di acak. Entah kebetulan atau apa kelasku dengan kelasnya Kak Alwi digabung. Pada saat istirahat pertama, aku melihat laki-laki yang mondar-mandir dari kelas sebelah ke kelasku, dan langkah dia yang terakhir itu menemui temanku Hafidz, sepertinya ingin meminjam pensil. Aku penasaran lagi, dalam hatiku bertanya ini kenapa sih orang ini dari tadi mondar mandir gak jelas. Setelah dia berlalu, aku nanya ke Hafidz, "Siapa sih itu Fidz? Gaje banget dari tadi mondar mandi kek gosokan", "Itu loh Kak Alwi", aku langsung terdiam mendengar namanya. Oh ternyata itu orangnya.
Dia tinggi, hidungnya mancung, dan selalu terlihat lebih dewasa dari usianya. Aku? Aku perempuan yang sudah terbiasa hidup mandiri. Dari SMA, aku sudah belajar cari uang sendiri. Mengerjakan makalah teman-teman, menulis sampai malam, demi beberapa lembar rupiah. Capek, tapi aku bangga.
Hari berganti hari, aku mulai mengikuti organisasi tersebut. Entahlah dari yang awalnya dekat hanya sekedar membahas tentang organisasi saja, sampai mengingatkan sholat, makan, dan kegiatan lainnya. Sampai akhirnya, entah sejak kapan, kami mulai sering bertukar cerita.
Aku masih ingat betul hari itu. Aku bangun lebih pagi dari biasanya. Masak nasi goreng sederhana. Tidak istimewa. Tidak pakai sosis atau ayam. Hanya nasi, telur, bawang, dan kecap. Tapi aku masak dengan hati yang entah kenapa deg-degan.
Aku tidak berani memberikannya langsung. Alwi itu ketua Rohis. Sudah pasti ada image yang harus dia jaga. Takut disangka dekat dengan perempuan. Jadi aku menitipkan kotak bekal itu di kantin.
“Mang, titip ya,” kataku ke Mang Alimin.
“Bilang aja dari… temen.”
Mang Alimin tersenyum paham.
Aku mengamati dari jauh saat Alwi mengambil bekal itu. Ia terlihat heran, tapi tetap membawanya. Aku menahan senyum sepanjang hari.
Ke esokan harinya, kotak bekal itu dikembalikan padaku. Tapi dia memberinya langsung saat suasana sekolah mulai sepi. Dia bilang "Terimakasih ya dek"
Aku membukanya. Di dalamnya ada sebatang coklat kecil. Tidak ada tulisan. Tidak ada pesan. Tapi dadaku langsung sesak. Dari situlah rasaku mulai dalam.
Bukan karena coklatnya. Tapi karena ia mengerti caraku memberi tanpa harus terlihat. Sejak hari itu, kami semakin dekat. Tapi selalu diam-diam. Selalu hati-hati. Tidak ada status. Tidak ada pengakuan. Hanya kebiasaan-kebiasaan kecil yang pelan-pelan terasa seperti rumah.
Delapan tahun. Delapan tahun aku berjalan di samping laki-laki yang tidak pernah menyebut namaku dalam kepastian, tapi selalu menggenggam perasaanku dalam kebiasaan. Aku tidak tahu, bahwa semua yang indah itu hanyalah awal dari perpisahan paling menyakitkan dalam hidupku.
Setelah hari coklat itu, hidupku berubah pelan-pelan. Bukan berubah besar. Bukan dramatis. Tapi ada satu nama yang mulai selalu ikut di setiap hariku: Alwi
Kami tetap tidak pernah terang-terangan dekat. Semua serba wajar di mata orang lain. Tapi aku tahu, ada ruang khusus yang ia sisakan untukku—dan aku menempatinya tanpa pernah diminta pergi. Alwi jarang bicara soal perasaan. Tapi sikapnya sering membuatku lupa bahwa aku sebenarnya tidak punya status apa-apa.
Dia lulus lebih dulu, lalu sibuk dengan kerja dan dunia nyata. Alwi merantau. Jarak membuat kami jarang bertemu, tapi komunikasi tidak pernah benar-benar putus. Malam-malamku sering dihabiskan menatap layar ponsel.
“Aku capek hari ini,” tulisku.
“Kenapa?” balasnya.
Lalu aku bercerita panjang. Tentang sekolah. Tentang hidup. Tentang lelah yang tidak bisa diceritakan ke siapa pun. Ia selalu ada. Bahkan saat kesedihanku ditinggal Nenek meninggal, ia selalu ada untuk mengurangi rasa sedihku, memberi semangat hidup.
Dan di situlah kesalahanku dimulai. Aku mengira kehadiran berarti niat. Aku mengira perhatian berarti masa depan. Delapan tahun adalah waktu yang lama untuk berharap. Dan terlalu singkat untuk disadari bahwa aku sedang menggantungkan hidup pada kemungkinan. Aku ingin menjadi perempuan yang ia pilih karena ketenangan, bukan tuntutan. Karena kesabaran, bukan tekanan.
PEREMPUAN YANG DATANG SAAT AKU TERLALU TENANG
Aku tidak tahu bahwa kesabaranku justru membuatku mudah dilewati. Dan suatu hari, Alwi mulai jarang membalas pesan. Nada suaranya berubah. Tidak sedekat dulu. Tidak sehangat dulu.
Waktu berjalan. Delapan tahun bukan waktu yang singkat. Banyak orang datang dan pergi dari hidup Alwi, tapi aku tetap ada—seperti rumah yang lampunya selalu menyala.
Hingga suatu hari, Alwi memutuskan merantau.
Kota baru menyambutnya dengan keras. Pekerjaan pertama tak pernah ramah. Gaji kecil, jam kerja panjang, dan rasa asing yang menusuk. Di kota itu, Alwi bertemu Naila—perempuan kedua dalam hidupnya. Naila ramah, terbuka, dan mengerti kerasnya hidup perantauan. Mereka sering makan malam bersama, berbagi keluh kesah.
Tapi setiap kali Alwi lelah, ia tetap mencariku.
“Kamu nggak capek dengerin kakak terus, dek?” tanya Alwi di telepon.
“Capek itu kalo nggak peduli,” jawabku. “Aku masih peduli.”
Jawaban itu menghangatkan sekaligus menakutkan. Karena aku tahu, perhatian yang dibiarkan terlalu lama akan berubah menjadi janji yang tak terucap.
Naila hadir di saat Alwi paling rapuh. Gaji kecil, kamar kos sempit, dan mimpi yang terasa terlalu besar untuk digapai. Naila adalah rekan kerja. Ia tidak banyak bertanya, tapi selalu tahu kapan Alwi butuh ditemani makan malam murah di pinggir jalan.
Berbeda denganku yang tenang dan penuh batas, Naila hangat dan nyata. Ia tahu pahitnya hidup merantau. Mereka sering berbagi keluh, tawa, dan rencana-rencana kecil tentang masa depan yang masih buram.
Alwi sempat berpikir, mungkin inilah cinta dewasa yang sering orang bicarakan.
Aku dan Alwi memang tidak pernah terucap kalimat "Kamu mau gak jadi pacarku?", yang kami jalani seperti layaknya pasangan pada umumnya. Ada cemburu, ada perhatian, dan saling mengungkapkan kata sayang. Dia tidak pernah melarangku. Tidak pernah meremehkan. Tidak pernah berkata, “Kamu perempuan, gak usah capek-capek.” Dia hanya menemani diseberang sana lewat layar ponsel saat aku menulis makalah. Kadang hanya diam, tapi kehadirannya cukup.
Namun, pada suatu saat yang tidak pernah aku bayangkan chat yang dulu rutin, pelan-pelan berhenti. Telepon yang biasanya panjang, tidak pernah lagi masuk. Namanya masih ada di layar, tapi rasanya sudah tidak bisa kugapai. Dia seolah ingin menghilang dari hidupku.
Aku sempat bertanya.
“Kak, kamu kenapa?”
Tidak ada jawaban.
Dan untuk pertama kalinya, aku belajar satu hal yang paling menyakitkan: diam juga bisa menjadi jawaban.
Kami putus komunikasi. Bukan dengan kata “selesai”. Bukan dengan perpisahan. Tapi dengan tidak ada apa-apa lagi.
Hari-hariku tetap berjalan. Kini aku sudah lulus dari sekolah.
Memasuki dunia baru yaitu dunia kerja. Aku tidak lanjut kuliah pada saat itu. Namun setelah satu tahun bekerja, perusahaanku menawarkan beasiswa. Jadi, di tahun kedua itu aku mendaftar kuliah.
Dan sekarang, aku bekerja sambil kuliah.
Aku capek. Aku lelah. Tapi ada ruang kosong yang tidak bisa kujelaskan ke siapa pun.
Sudah lama tanpa komunikasi aku tidak tahu, di kota lain, Alwi sedang membangun hidup baru bersama perempuan lain. Namanya Naila. Perempuan pertama yang ia posting di media sosialnya dan ia pamerkan ke seluruh dunia. Dia bangga sekali sepertinya dengan wanita itu. Mereka berpacaran.
Saat aku melihat postingan itu, hatiku sakit, dadaku sesak. Ternyata dia sudah menemukan perempuan yang selama ini dia cari. Aku hanya diam, tidak protes.
Selama Alwi bersama Naila, aku benar-benar tidak ada di hidupnya.
Tidak ada chat.
Tidak ada perhatian ganda.
Tidak ada aku.
Alwi sangat menyayangi perempuan itu, bahkan pada saat dimasa sulitnya Alwi selalu ada untuknya. Alwi menemaninya di masa-masa paling sulit. Saat ayah Naila meninggal, Alwi yang memandikan jenazahnya. Tujuh hari tujuh malam ia ikut tahlilan. Ibunya Naila menganggap Alwi seperti anak sendiri.
Aku tahu itu semua setelahnya.
Saat perasaanku sudah terlanjur kosong dan pasrah. Namun ternyata hubungan mereka hanya bertahan dua tahun.
Ketika hubungan mereka berakhir, Alwi kembali muncul.
Dengan kalimat sederhana, seolah tidak pernah menghilang begitu lama.
“Dek, kamu apa kabar?.” Satu kalimat sederhana.
Dua tahun rasa yang kembali terbuka.
Aku membalas.
Dan sejak saat itu, aku kembali melakukan kesalahan yang sama:
membiarkan diriku menjadi pilihan yang selalu ditunda.
SAAT IA KEMBALI, AKU PERCAYA LAGI
Alwi kembali ke hidupku dengan cara yang sangat sederhana.
“Dek, apa kabar?.”
Satu kalimat.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada permintaan maaf.
Dan bodohnya, aku membalas.
Aku tidak bertanya ke mana ia pergi selama ini. Aku tidak meminta cerita tentang dua tahun yang hilang. Aku pura-pura tidak penasaran. Aku pura-pura dewasa.
Kami kembali sering berbincang. Seperti dulu. Seperti sebelum semua jarak tercipta. Ia kembali menanyakan kabarku. Pekerjaanku sekarang apa. Kesehatanku. Hidupku.
Aku merasa dipilih lagi.
Alwi berubah. Ia terdengar lebih matang. Lebih tenang. Ia mulai bercerita tentang usaha kecil yang sedang ia rintis. Tentang hidup yang perlahan mulai stabil. Aku mendengarkan dengan hati yang penuh.
Aku kembali berharap, tapi kali ini dengan lebih hati-hati. Aku tidak ingin mengulang luka yang sama. Aku hanya ingin kejelasan.
Suatu malam, aku bertanya.
“Kak… sebenernya arah kita ke mana?”
Ia diam lama.
“Kita jalanin pelan-pelan ya,” katanya akhirnya.
Jawaban yang terdengar manis, tapi tidak pernah jelas.
Namun aku memilih percaya.
Ia kembali memanggilku dengan nada lembut. Memberiku perhatian yang membuatku lupa bahwa aku masih tidak punya posisi.
Kami mulai membicarakan hal-hal yang terlalu jauh untuk sekadar teman. Setiap lebaran kalau dia pulang kampung, dia selalu kerumahku, bertemu orangtuaku, keluargaku. Dan dengan bodohnya aku, aku mengenalkannya kepada seluruh keluargaku. Dan dengan tidak masuk akalnya juga, ia membawaku bertemu keluarganya dan mengenalkan aku kepada seluruh keluarganya. Hubungan pertemanan macam apa yang situasinya begini? Seolah-olah hubungan ini sudah mau ditahap serius. Nyatanya hanya aku yang tenggelam dalam harapan.
Kami semakin dekat. Bahkan lebih dekat dari sebelumnya.
Nama anak yang sudah kita fikirkan.
Bentuk rumah.
Kehidupan setelah menikah.
Bahkan pada saat itu, saat lebaran ia main kerumahku, di sebelah rumah tetanggaku itu ada rumah yang dipasang banner dengan tulisan Rumah Ini Dijual, ia bertanya pada tetanggaku
"Pak, mau tanya, itu rumahnya kira-kira kisaran berapa ya?"
Aku terheran-heran dengan apa yang barusan ia lakukan.
"Kenapa kak nanya-nanya rumah itu, emang mau beli rumah? Buat siapa?"
dia menjawab dengan senyum hangat
"Buat kita dek, kalau seandainya kita jodoh, rumah itu bisa untuk kita. Misalnya kita pulang kampung, jadi kita gak pulang kerumah orang tua lagi, kita pulang ke situ aja. Apalagi nanti kalau misalnya kamu sudah lahiran, ya kita tinggal disitu aja. Kan deket juga sama rumah bibi, jadi enak kalo butuh bantuan apa-apa ada bibi"
Ya dari pernyataan yang barusan dia ucapkan, kuanggap hubungan ini sudah lebih dari sekedar teman.
Dan aku, dengan seluruh hatiku, ikut membayangkan.
Aku lupa satu hal:
laki-laki bisa merencanakan masa depan dengan banyak perempuan, tanpa pernah berniat benar-benar membawanya ke sana.
Di saat yang sama, aku tidak tahu bahwa Alwi sedang dekat dengan perempuan lain.
Namanya Leni.
Aku tidak langsung tahu. Aku tahu belakangan. Saat semuanya sudah terlalu dalam. Saat aku sudah menaruh seluruh harapanku kembali di tangannya.
Leni hadir di hidup Alwi saat ekonominya sudah lebih baik. Saat usahanya mulai jalan. Saat hidupnya tidak lagi kekurangan.
Dan aku… hanya hadir di saat ia masih mencari arah.
Aku tidak curiga. Aku percaya.
Karena Alwi tetap memperlakukanku dengan manis.
Terlalu manis, bahkan.
Aku tidak tahu, bahwa manis yang dia berikan untuk hatiku itu adalah manis terakhir sebelum pahit paling panjang dalam hidupku.
KAMI BERTEMAN BUKAN TANPA SENGAJA
Aku tidak langsung tahu soal Leni.
Yang aku tahu, hidup Alwi terlihat lebih rapi. Lebih tenang. Lebih berkecukupan. Ia sering bercerita tentang usahanya yang mulai jalan, tentang rencana-rencana yang terdengar dewasa.
Dan di saat yang sama, aku kembali berada di hidupnya—tanpa status, tapi penuh janji yang tidak pernah diucapkan sebagai janji.
Di masa itulah, aku mengenal Naila.
Aneh rasanya.
Perempuan yang pernah mengisi hidup Alwi dua tahun lamanya, kini tertawa bersamaku, bercerita seolah kami tidak pernah terhubung oleh satu nama yang sama.
Kami berteman.
Tidak canggung. Tidak saling sindir. Tidak saling membuka luka lama.
Mungkin karena kami sama-sama perempuan yang pernah mencintai Alwi dengan cara kami sendiri.
Aku dan Naila tidak pernah benar-benar bertemu.
Kami berteman, tapi hanya sebatas layar. Chat. Voice note. Kadang telepon singkat.
Ia di Kota sana, kota yang dimana menjadi tempat perantauan Alwi.
Naila tidak pernah memburukkan Alwi di depanku.
Aku juga tidak pernah menanyakan detail hubungannya dulu.
Kami hanya saling menemani, sebagai dua orang yang sama-sama belajar berdamai.
Aku dan Naila berteman bukan karena kebetulan. Aku yang lebih dulu menghubunginya.
Waktu itu aku hanya ingin satu hal: kejujuran. Aku lelah menebak-nebak posisiku sendiri di hidup Alwi. Jadi aku memberanikan diri membuka media sosialnya dan menulis pesan yang paling sederhana yang bisa kupikirkan.
“Mba, masih pacaran sama Alwi?”
Aku menunggu balasannya dengan napas yang tertahan. Tidak ada niat merebut. Tidak ada niat menyakiti. Aku hanya ingin tahu, apakah aku masih pantas berharap atau sudah waktunya mundur.
Lama DM ku tidak dibalas. 6 bulan kemudian barulah ada jawaban.
“Engga, kita udah putus.”
Dan entah kenapa, dari situ aku merasa sedikit lebih tenang.
Aku mengira, setelah Naila, giliran aku yang akan dipilih.
Aku salah.
Aku tidak tahu—atau mungkin tidak mau tahu—bahwa di saat yang sama, Alwi sedang serius dengan perempuan lain.
Namun Alwi tetap ada di hidupku. Masih manis. Masih memberi perhatian. Bahkan masih membicarakan masa depan bersamaku.
SAKIT TANPA AMPUN
Alwi bertemu Leni saat hidupnya sudah lebih tenang. Tidak ada lagi cerita lapar di perantauan. Tidak ada lagi tidur di kamar sempit. Alwi berada di fase siap—dan ternyata, kesiapan itu bukan untukku.
Yang paling menyakitkan bukan saat dia memilih Leni.
Yang paling menyakitkan adalah:
saat dia memilih Len, Alwi masih menggenggam tanganku.
Dia masih memanggilku dengan nada lembut.
Masih merencanakan nama anak bersamaku.
Masih membicarakan rumah kecil yang katanya akan kami tempati setelah menikah.
Aku percaya.
Karena aku mencintai.
*
Desemberku kali ini sangat berat.
Aku mengalami kecelakaan di awal bulan. Tanganku patah. Hidupku berhenti sejenak. Aku belajar makan dengan satu tangan. Belajar mandi dengan bantuan. Belajar menerima bahwa bahkan tubuhku pun bisa mengkhianatiku.
Aku mengabari Alwi dengan mengirim foto wajahku yang bengkak serta masih berdarah tergores aspal dan jari tanganku yang membengkok.
"Kak, aku kecelakaan, jari aku patah besok mau di pasang pen sama di gips juga"
Saat aku mengirimkan pesan itu, respon dia biasa saja. Tidak ada khawatir atau apa.
"Oalah, kok bisa dek? Cepet sembuh ya"
Aku merasakan ada yang aneh lagi, ada apa ya? Apa mungkin dia lagi capek ya, kok responnya begitu?.
Ah, yasudah. Aku tidak mau banyak berfikir, luka akibat jatuh ini masih nyeri sekali.
Malam hari, saat aku ingin terlelap. 1 panggilan masuk dari Alwi.
Fikirku mungkin dia baru selesai dari kesibukannya.
Dia menanyakan keadaanku.
"Gimana dek, udah mendingan belum? Kakak mau ngasih saran, kalo bisa sih jangan di pasang pen. Kamu bawa aja ke tukang urut. Nanti pasti lurus lagi. Kalau di pasang pen itu sembuhnya lama, belum lagi kamu harus balik kerumah sakit lagi untuk operasi lepas pen nya nanti"
"Tapi aku udah tandatangan setuju tadi kak, besok pagi operasi nya"
"Iya tapi bisa dibatalin itu"
"Sudahlah kak biarin, ini juga kan saran dokter. Mau dibatalin juga sudah malem, mau konfirmasi ke siapa"
"Yaudahlah, kakak cuma ngasih saran aja dek. Cepet sembuh ya. Yaudah istirahatlah jangan mikirin apa-apa dulu, fikirin dulu kesembuhan kamu"
Perhatian itu adalah perhatian terakhir kalinya untukku.
Setelah aku menjalani operasi pasang pen aku tidak mengabarinya bahwa operasiku sudah selesai. Aku hanya menunggu apakah dia akan menghubungiku duluan atau tidak.
Ternyata tidak.
3 minggu aku terbaring dirumah izin dari tempat kerjaku. Dan dia sama sekali tidak ada menanyakan apakah aku sudah sehat atau belum. Aku hanya diam.
Tanggal 24 adalah hari pertamaku kembali bekerja. Tanganku masih belum sepenuhnya pulih. Jariku gemetar saat mengetik laptop.
Di sela-sela jam kerja itu, notifikasi dari Naila masuk.
“Ma, kamu denger info gak… Alwi mau nikah tanggal 26?”
Aku menatap layar lama.
“Dua enam kapan? Tahun depan?”
“Besok ini.”
Dan di situlah, semua yang selama ini kucoba tenangkan, runtuh bersamaan.
Tanganku gemetar di atas keyboard.
Hari pertama masuk kerja setelah kecelakaan.
Semua orang melihatku “baik-baik aja”,
padahal jariku bahkan kaku waktu mengetik.
Duniaku sunyi seketika. Setelah Naila mengirim kabar itu, aku tidak langsung menangis.
Aku masih duduk di depan laptop. Jam kerja belum selesai. Tanganku gemetar—bekas patah tulang belum sepenuhnya pulih. Aku memaksa jari-jariku menekan tombol, seolah pekerjaan bisa menyelamatkanku dari kenyataan. Nyatanya tidak bisa.
Aku bertanya lagi kepada Naila.
"Ini dia beneran nikah?"
"Iya, Ma. Beneran.", lalu dia mengirim foto dengan fitur sekali lihat. "Itu bapaknya, lagi otw ke kota"
Ya, aku memang melihat bapaknya Alwi di foto itu sedang duduk di kapal sepertinya.
Aku yang awalnya berfikir mungkin Naila salah info, tapi kali ini sudah ada bukti seperti itu ya berarti memang benar pernikahan itu akan terjadi.
Aku membuka kolom chat Alwi. Aku pura-pura tidak tahu apa-apa. Seperti selama ini aku pura-pura kuat. Aku mengiriminya sebuah pesan seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kak, sibuk gak? Hari ini aku sudah mulai masuk kerja loo. Tangan aku udah mendingan kok ini"
Lama tidak ada balasan. Aku telpon saja. Tidak diangkat juga.
"Sibuk banget ya kak hari ini?" Aku kembali mengetikkan pesan untuknya.
Waktu berjalan lambat, seperti sengaja memperpanjang sakit. Dadaku sesak, tapi aku masih berharap—sedikit saja—bahwa semua ini salah info.
Sampai akhirnya, satu pesan masuk.
“Ada yang mau ku ceritain.”
Aku menatap layar lama. Jari-jariku dingin.
“Cerita aja, biasanya juga cerita.” balasku.
Beberapa menit kemudian, pesan panjang itu datang. Terlalu panjang untuk sebuah perpisahan yang tidak pernah dimulai.
"Maafin kakak ya dek, kalo ada salah sama kamu. Makasih udah pernah menyimpan rasa sama kakak selama ini. Tapi sepertinya kakak sudah punya pilihan dan gak selalu dibilang enggak jelas lagi sama perasaan. Jangan ada permusuhan diantara kita berdua ya. Makasih buat semuanya. Semoga kamu ketemu jodoh yang terbaik, dilancarin rezekinya."
Aku membacanya pelan.
Sekali.
Dua kali.
Tidak ada namaku di sana.
Tidak ada “aku minta maaf karena telah membuatmu berharap”.
Hanya ucapan terima kasih, seolah rasa delapan tahun adalah barang titipan yang selesai dititip.
Aku menutup mata sebentar. Mengatur napas. Bukan untuk menahan tangis—tapi untuk menahan diriku sendiri agar tidak memohon lagi.
"Oalah, kapan akadnya kak?", aku sok tegar
"Akhir desember ini dek", dia membalas pesan tanpa rasa bersalah.
Lalu aku membalas pesannya.
"Semoga rasa sakit hati aku gak menghambat rezeki kamu ya. Aku yang kemarin ngemis-ngemis minta kepastian, kakak masih beralasan ini itu, tapi ternyata bukan aku pilihannya.
Jadi ternyata ini jawabannya. Anggep kita gak pernah kenal yaa, jangan pernah muncul di hadapan aku lagi. Semoga kita gak pernah ketemu lagi di kebetulan manapun.
Aku izin blok "
Pesan terkirim.
Tidak ada rasa menang.
Tidak ada lega.
Aku memblokir nomornya. Menutup semua akses yang selama ini kubiarkan terbuka. Tanganku bergetar lebih hebat dari sebelumnya. Bukan karena sakit fisik—tapi karena akhirnya aku berani menutup pintu yang terlalu lama kubiarkan setengah terbuka.
Malam itu, aku pulang dalam diam.
Aku makan seadanya. Mandi lebih lama dari biasanya. Lalu duduk di kamar dengan tatapan kosong. Ponselku sunyi. Tidak ada lagi notifikasi dari nama yang selama ini paling sering muncul.
Tanggal 26 semakin dekat.
Di kepalaku, dua hal bertabrakan:
ujian kuliah yang harus kuhadapi,
dan pernikahan laki-laki yang hampir 8 tahun hidupku ada dia didalamnya.
Malam tanggal dua empat itu terasa panjang.
Aku tidak tahu bagaimana caranya bangun esok hari—
tanpa Alwi,
tanpa harapan,
tanpa pegangan.
TANGGAL DUA ENAM
Tanggal 26 datang tanpa menungguku siap. Pagi itu aku bangun lebih awal dari biasanya. Kepalaku berat, mataku perih. Tanganku masih sakit kalau digerakkan terlalu cepat. Tapi aku tidak punya pilihan selain bangun.
Hari itu aku ujian kuliah.
Aku duduk di tepi kasur cukup lama, menatap lantai. Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, tidak ada pesan “semangat” dari Alwi. Tidak ada doa. Tidak ada kabar.
Dan anehnya, di situ aku sadar:
ternyata aku bisa bernapas juga tanpa dia.
Aku berangkat ujian dengan langkah pelan. Di jalan, pikiranku berisik. Bukan tentang soal ujian, tapi tentang waktu. Tentang jam. Tentang di tempat lain, pada jam yang sama, seseorang sedang mengucapkan akad.
Di ruang ujian, aku duduk, membuka layar komputer, dan mencoba fokus. Tanganku gemetar saat memegang pulpen untuk menandatangani absen yang diberikan pengawas. Aku menarik napas dalam-dalam.
Ini hidupku, kataku dalam hati.
Ini jalanku.
Beberapa soal aku hanya menjawab sebisaku karena pikiranku kosong. Tapi tidak ada satupun jawaban yang kubiarkan kosong. Aku bertahan sampai akhir. Aku tidak keluar. Aku tidak menyerah.
Selesai ujian, aku duduk sendiri di bangku luar kampus. Ponselku tetap sunyi. Tidak ada kabar dari siapa pun tentang pernikahan itu. Dan aku bersyukur.
Sore harinya, Naila mengirim pesan.
Tidak panjang. Tidak detail.
Hanya satu kalimat.
"Yang sabar ya cantik"
Aku membaca itu lama. Tidak kubalas. Kepalaku masih berisik dengan pertanyaan-pertanyaan kenapa hari ini benar-benar terjadi.
Aku tidak membenci Naila.
Aku juga tidak membenci Leni.
Yang paling sulit untuk kumaafkan justru diriku sendiri—
karena terlalu lama bertahan di tempat yang tidak pernah berniat menetapiku.
Malamnya, aku pulang ke rumah. Aku makan bersama keluargaku. Ayah bertanya soal ujianku. Ibu menyuruhku banyak istirahat. Mereka tidak tahu apa-apa. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak ingin menceritakan semuanya.
Beberapa luka cukup disimpan.
Tidak semua harus dijelaskan.
Hari-hari setelah itu berjalan pelan.
Tidak langsung baik.
Tidak langsung sembuh.
Ada malam-malam di mana aku masih terbangun dengan dada sesak. Ada hari-hari di mana aku tiba-tiba menangis tanpa alasan jelas. Ada kenangan kecil—nasi goreng, cokelat, suara azan—yang datang tanpa permisi.
Tapi aku belajar satu hal penting:
Cinta yang baik tidak membuatmu menunggu tanpa nama.
Tidak membuatmu merasa harus lebih sabar dari seharusnya.
Tidak membuatmu ragu pada nilai dirimu sendiri.
Alwi memilih hidupnya.
Dan di tanggal dua enam itu, aku juga memilih hidupku.
Bukan sebagai perempuan yang ditinggalkan.
Tapi sebagai perempuan yang akhirnya berhenti menggantungkan masa depannya pada orang lain.
Namaku Salma.
Aku pernah mencintai dengan seluruh hatiku.
Dan meski ceritaku tidak berakhir dengan pernikahan,
aku tahu satu hal:
Aku tidak kalah.
Aku hanya selesai.
NASI UDUK DAN BAPAK
Malam itu, Aku duduk di meja makan. Di depanku ada sepiring nasi uduk masih hangat. Aromanya biasanya menenangkan. Tapi malam itu, suapan pertamanya terasa berat.
Air mataku jatuh tanpa permisi.
Aku menunduk, mencoba menahan, tapi bahuku bergetar. Bapakku yang duduk di seberang berhenti makan. Menatap anak perempuannya lama—bukan dengan kaget, tapi dengan rasa tahu.
“Kenapa nangis, Nak?” tanya bapaknya pelan.
Aku menggeleng sebentar, lalu suaranya pecah.
“Alwi nikah sama orang lain, Pak.”
Kalimat itu keluar sederhana.
Tanpa drama.
Tapi cukup untuk menjelaskan segalanya.
Bapak hanya diam. Menghela napas pelan. Ia tidak langsung bicara. Tangannya meraih gelas, meneguk air, lalu menatapku dengan mata yang penuh—bukan marah, bukan sedih, tapi sayang.
“Jangan terlalu ngejar cinta laki-laki,” katanya akhirnya.
“Perempuan itu bukan buat ngejar. Kamu bangun hidup kamu. Kamu sukses, kamu bahagia. Nanti… laki-laki yang datang sendiri.”
Aku menunduk mendengar kata-kata itu… hangat.
Bapak menepuk punggung tanganku pelan.
“Kamu gak kurang apa-apa, Nak. Cuma salah naruh harap.”
Aku mengangguk pelan. Aku belum sepenuhnya sembuh. Tapi malam itu, di meja makan sederhana, di hadapan bapak—aku merasa tidak sendirian.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama,
aku percaya…
bahwa hidupku tidak berhenti di satu nama.
Aku menghapus air mataku, mengambil suapan kecil, lalu makan. Pelan.
Seperti sedang belajar menerima hidup… dari awal lagi.SETELAH SEMUANYA
Beberapa hari setelah tanggal dua enam, hidupku tidak memberi jeda untuk bersedih terlalu lama.
Pagi tetap datang.Pekerjaan tetap menunggu.
Kuliah tetap harus dijalani.
Aku masih bekerja di tempat yang sama. Masih duduk di depan laptop yang sama. Tanganku sudah jauh lebih baik, meski kadang masih terasa ngilu kalau terlalu lama mengetik.
Aku jarang membuka kembali chat lama. Bukan karena sudah tidak sakit, tapi karena aku sudah tidak perlu membuktikan apa pun pada diriku sendiri.
Nama Alwi tidak lagi ada di ponselku. Aku tidak membuka blokir. Aku tidak mencari kabarnya. Aku tidak menunggu apa pun darinya.
Nama Alwi tidak lagi muncul di hidupku. Tidak di layar. Tidak di jalan. Tidak juga di doa-doa yang dulu sering kusebut tanpa sadar.
Dan yang paling penting:
aku tidak lagi berharap.
Aku berhenti membayangkan.
Berhenti mengulang-ulang pertanyaan “kenapa aku bukan pilihannya”.
Berhenti menyalahkan diriku sendiri.
Aku memutuskan untuk tidak lagi membawa namanya ke masa depanku.
Cinta delapan tahun itu tidak sia-sia.
Ia mengajariku tentang sabar, tentang memberi, dan tentang batas.
Dan di titik itu, aku selesai.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa ingin kembali.
Aku juga masih sesekali berbincang dengan Naila. Tidak sering. Tapi cukup untuk tahu bahwa kami berdua baik-baik saja dengan cara kami masing-masing.
Aku belajar banyak hal dari kehilangan.
Bahwa mencintai tidak selalu harus memiliki.
Bahwa setia tidak selalu berarti bertahan.
Dan bahwa pergi, kadang, adalah bentuk paling jujur dari menjaga diri sendiri.
Sekarang, aku mulai menata hidupku tanpa bayangan siapa pun. Aku kuliah dengan sungguh-sungguh. Aku bekerja dengan tenang. Aku pulang dengan hati yang perlahan belajar damai.
Aku tidak tahu siapa yang akan datang setelah ini.
Aku juga tidak terburu-buru mencarinya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak menunggu siapa pun.
Aku hanya berjalan.
Dan ternyata, itu sudah lebih dari cukup.
Comments
Post a Comment