Tiga Nama, Satu Takdir
PUTIH ABU DAN DELAPAN TAHUN TANPA NAMA Siang itu, langit masih pucat. Angin sekolah berembus pelan, dan aku bersama teman satu kelas berjalan menuju mushola untuk menunaikan shalat zuhur dengan langkah malas khas anak kelas sepuluh. Lalu suara itu terdengar. Lantang, jernih, dan entah kenapa… menenangkan. “Allahu Akbar…Allahu Akbar” Aku berhenti melangkah. Suaranya bukan yang dibuat-buat. Tidak tinggi berlebihan. Tidak juga datar. Tapi hangat. Seolah setiap lafaznya keluar dari hati, bukan sekadar kewajiban. Aku menoleh ke arah sumber suara. Aku penasaran, itu suara siapa. Lalu aku bertanya dengan temanku yang laki-laki bernama Hafidz, "Itu siapa ya Fidz yang adzan?" , tanyaku. "Kak Alwi, ketua rohis kita" , katanya. K...