Dengan ini, aku berharap kata akan menerjemahkan setiap rasa yang sulit terucap lewat suara.
Ya Entah
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
-
Sejauh apapun aku menjauh entah mengapa takkan jauh. Rasa-rasa yang dulu mungkin dirasa hilang itu hanyalah bayangan. Entahlah, bertegur sapa pun sudah tidak bisa, haha.
Kamu ga akan pernah tau rasanya sebelum ngerasain sendiri. Walaupun kamu bilang "saya tau rasanya gimana", gak kamu gak akan pernah tau. Hidup ini penuh dengan yang namanya kejutan. Tapi kejutan yang paling tidak aku harapkan adalah tentang kehilangan. Entah itu kehilangan barang, uang, ataupun seseorang. Ini yang terakhir kalinya aku menuliskan tentang kehilangan. Tidak ada lagi setelah ini. Hmm.. Februari kali ini sampe 29 hari yaa. Ada kejutan tak terduga apalgi setelah ini, bertemu dengan berbagai macam orang seperti apalagi, kehilangan apa lagi. Hidupku yang menurut orang-orang baik-baik aja, enak-enak aja, kenyataan nya berbanding terbalik. Mau gimana lagi ya, kayaknya emang gini deh takdir hidup yang harus dijalani. "Semua orang memang punya bebannya masing-masing, jangan ngerasa paling tersakiti". Tapi sumpah ini sakit banget asuu. Aaaa hidup ini kek apa ya, ih cape. Dunia itu emang tempatnya cape, tapi kenapa ini cape banget Ya Allah. Ini sudah ikhlas yan...
PUTIH ABU DAN DELAPAN TAHUN TANPA NAMA Siang itu, langit masih pucat. Angin sekolah berembus pelan, dan aku bersama teman satu kelas berjalan menuju mushola untuk menunaikan shalat zuhur dengan langkah malas khas anak kelas sepuluh. Lalu suara itu terdengar. Lantang, jernih, dan entah kenapa… menenangkan. “Allahu Akbar…Allahu Akbar” Aku berhenti melangkah. Suaranya bukan yang dibuat-buat. Tidak tinggi berlebihan. Tidak juga datar. Tapi hangat. Seolah setiap lafaznya keluar dari hati, bukan sekadar kewajiban. Aku menoleh ke arah sumber suara. Aku penasaran, itu suara siapa. Lalu aku bertanya dengan temanku yang laki-laki bernama Hafidz, "Itu siapa ya Fidz yang adzan?" , tanyaku. "Kak Alwi, ketua rohis kita" , katanya. K...
Aku bingung dengan perasaanku sendiri. Dengan hatiku. Pasang surut dalam mengikhlaskan. Tapi kali ini aku ingin cerita. Tentang satu nama yang sampai saat ini sangat susah untuk di ikhlaskan. Nama yang selalu aku langitkan di setiap do'aku. Ya Allah... Apa alasanmu menaruh nama itu dihatiku begitu lama. Bahkan sudah bertahun-tahun aku sudah mengikhlaskan, sudah hilang komunikasi, engkau datangkan lagi. Awalnya biasa-biasa saja, hatiku menolak untuk menumbuhkan perasaan-perasaan itu lagi. Tapi ya Allah... Kali ini benar-benar sakit. Kapan ini semua berhenti ya Allah? Dadaku sesak. Matikanlah hatiku ya Allah untuk tidak mencintai seseorang sebelum waktu yang tepat itu datang. Aku capek ya Allah. Harus berapa tahun lagi perasaan ini hilang tak berbekas? Bahkan ketika aku mencoba untuk bersama orang lain, dia masih ku tempatkan di ruang hati yang paling dalam. Ya Allah... Sakit sekali mencintai makhlukmu yang satu itu. Kenapa hatiku begitu terikat padanya? Apa akhir dari cerita ...
Comments
Post a Comment